Kamis, 16 Februari 2012

Belajar Drama


Bacalah naskah drama berikut, kemudian tentukan unsur-unsur pembangun drama:
1. Tema
2. Tokoh dan perannya
3. Alur drama
   a. Eksposisi (pendahuluan)
   b. Komplikasi (permasalahan)
   c. Klimaks (puncak permasalahan)
   d. Resolusi (penyelesaian)
   e. Konklusi (kesimpulan)
4. Amanat



Drama Sebabak
JAKARTA 1998
Karya Agus ley-loor
 
PELAKU

Pak De Jumingan laki-laki usia 60 tahun            Mantan pasukan Seroja

Mutiyah gadis usia 17 tahun                              Anak pak De

Mak Kuat Janda usia 55 tahun                         Pengumpul barang bekas.

Pungkas anak mak Kuat usia 18 tahun             Pelajar SMU

Bendot pemuda usia 21 tahun                          Pengamen Jalanan

Mahasiswa reformis I

Mahasiswa Reformis II

 

SUASANA PAGI HARI PADA SEBUAH PERKAMPUNGAN MISKIN DI PINGGIRAN IBU KOTA JAKARTA 1998. DI SEBELAH KANAN PANGGUNG BERDIRI RUMAH SEDERHANA NAMUN BERSIH MILIK PAK DE JUMINGAN, SEDANG DI SEBELAH KIRI RUMAH SANGAT SEDERHANA MILIK MAK KUAT DAN DI SEKITAR RUMAH ITU BANYAK TUMPUKAN BARANG BEKAS DAN SEPEDA BUTUT MILIK PUNGKAS.

KETIKA LAYAR DIBUKA NAMPAK PAK-DE SEDANG BERUSAHA MENGHIDUPKAN MESIN MOTORNYA YANG SEJAK TADI TIDAK BISA HIDUP. SEMENTARA DISEBELAH KIRI PANGGUNG PUNGKAS SEDANG MEMBANTU EMAKNYA MENATA BARANG-BARANG BEKAS…
(O.S.) DARI JAUH TERDENGAR SAYUP-SAYUP SAMPAI LAGU MAJU TAK GENTAR CIPTAAN C. SIMANJUNTAK YANG DINYANYIKAN OLEH BERIBU-RIBU MANUSIA.

PAK- DE  ( Sambil dengan kesibukanya masing-masing )
Kalau saya mendengar lagu Maju Tak Gentar seperti tadi Le, hemm…..Rasanya menggelegak darah dalam dadaku.

PUNGKAS  
Kenapa De?


PAK- DE  
Betapa tidak. Waktu itu aku bersama teman-teman satu pleton sedang berjalan menuju sebuah desa pegunungan di Timor-timur bagian selatan. Daerah itu penuh dengan tumbuhan liar dan semak belukar. Setiap kali kami melalui jalan setapak yang sering kami lewati, bulu kuduk kami selalu berdiri. Kamu tahu le?

PUNGKAS  
Tidak.

PAK-DE  
Tak kasih tahu ya, waktu itu malam jumat kliwon hujan rintik-rintik. Kalau cuma binatang buas atau binatang berbisa, kami sudah biasa menjumpai dan itu tak berarti bagi kami.

PUNGKAS  
Kalau Jin, hantu atau roch halus, bagaimana De?

PAK-DE  
Kami orang- orang beriman yang tidak percaya dengan tahayul.

PUNGKAS  
Lalu kenapa bulu kuduk Pak-De dan teman-teman berdiri kalau tidak takut semuanya?

PAK-DE  
Yang kami takutkan adalah ranjau milik musuh dan musuh kami yang sangat lihai. Sering secara tiba-tiba mereka muncul, kemudian menembaki Kalau tidak waspada, nyawa taruhannya. Nah. Untuk memberikan motivasi dan semangat pasukanku, kami
biasanya menyanyikan lagu itu.

PUNGKAS  
O… begitu to ceritanya. Kalau Pak-De takut sama musuh, kenapa dulu Pak-De mau ditugaskan disana? Mending dirumah saja kumpul sama anak istri dan tidak kawatir kena ranjau musuh.

MAK KUAT  
Kalau dirumah takut ranjaunya mbok-de Le.

PUNGKAS 
Emangnya mbok-de punya ranjau?

PAK-DE  
Emakmu itu ada-ada saja. Itulah Le, resiko jadi prajurit. Terikat oleh sumpah prajurit, apa yang diperintahkan oleh atasan prajurit harus siap melaksanakan.

PUNGKAS  
Kalau perintahnya harus menembak orang, Apakah Pak-De juga akan laksanankan?

PAK-DE  
Temtu Le.

PUNGKAS  
Pak- De enggak takut dosa?

PAK-DE  
Ech…anu.. Le….?

MAK- KUAT  (setelah melihat Pak-De sejenak)
Ayo to Le cepet selesaikan pekerjaannya, nanti keburu siang kamu berangkat sekolah.
Ngomong sama Pak-Demu itu nggak selesai-selesai.

PAK-DE 
Iya Le. Aku tak mbetulin motor dulu.

BENDOT MUNCUL MEMBAWA GUITAR SAMBIL MENYANYIKAN LAGU MAJU TAK GENTAR PAK-DE GRAGAPAN DAN MENGUMPAT

BENDOT  
Gimana Pak-De. Lagunya bisa memberi semangat nggak?

PAK-DE  
Itu bukan memberi semangat tapi ngagetin! Jangan diulangi ya!

BENDOT  
wah… kalau diulangi ya nggo-pek Pak-De.

PAK-DE  
Nggo-pek palelu.

BENDOT AKAN BERLALU DARI TEMPAT ITU

BENDOT  
Mari Pak-De, saya berangkat tugas duluan.

PAK- DE  
Kayak pegawai saja pakai tugas segala. Terus kantormu itu dimana Ndot- Bendot?!

BENDOT  
Lho..? Di Cross Road - Red Lamp Courporation gitu kok…?

PAK- DE  
Cross Road – Red Lamp itu kantor apa?

BENDOT  
Perempatan lampu merah.! Wach.. Pak-De ini nggak gaul.

PAK-DE  
Oalah…Ndot, minggat sana!

BENDOT  
Okey… Excuse me Big Father…

BENDOT BERJALAN KEARAH KIRI PANGGUNG DAN PAK-DE MASUK RUMAH

MAK KUAT  
Kok tumben Ndot. Hari masih begini pagi kamu sudah berangkat tugas. Biasanya habis adzan dluhur kamu baru lewat.

BENDOT  
Iya Mak. Buat ngejar setoran.

MAK KUAT  
Yang Kamu setori itu siapa Ndot?

PUNGKAS  
Ada Mak. Masa Emak nggak tahu? Yang sering nemani emak kalau lagi masak itu lho..

MAK KUAT  
O… begitu to ceritanya…? Si Tiyah…? Wech… baru tahu aku.

BENDOT  
Emak sich, nggak gaul.

MAK KUAT  
Tapi pesan emak jangan buat main-main. Kamu bisa dihajar bapaknya nanti. Sudah sana cari duwit yang banyak buat setoran.

BENDOT  
Iya dech mak. Insya Allah. Excuse me mak. .…..

KETIKA BENDOT HENDAK MELANGKAH DARI ARAH BERLAWANAN
MUNCUL DUA ORANG MAHASISWA LARI TERBURU DENGAN WAJAH
KETAKUTAN HAMPIR MENABRAK BENDOT. DAN BENDOTPUN
MENGHINDAR…. . …

BENDOT  
Eit! Lihat jalan mas!

(Bendot mengumpat)

MAHASISWA 1  
Maaf mas keburu-buru.

MAHASISWA 2  (Nampak terburu-buru dan nafas tak beraturan)
Mas apa gang ini bisa tembus ke jalan raya?….ech…kami….ech ..anu…. kami…

BENDOT  
Bisa. Depan rumah itu kanan-kiri-kanan-kiri terus naik.

MAHASISWA 1+2  
Terimakasih mas, permisi…

MEREKA BERDUA TERUS BERLARI MENGIKUTI PETUNJUK YANG TELAH DIBERIKAN BENDOT. SEMUA YANG ADA DISANA MELIHAT KEDUA MAHASISWA ITU DENGAN KEHERANAN BENDOT MENGANGKAT BAHU DENGAN KEDUA TELAPAK TANGANNYA TERBUKA SAMBIL ALIS MATANYA DITARIK KEATAS TANDA TAK MEGERTI. PERBUATAN BENDOT ITU DIIKUTI OLEH PUNGKAS, EMAK SERTA PAK-DE SECARA BERUNTUN. BENDOT SEGERA MELANJUTKAN LANGKAHNYA DAN PERGI…

PUNGKAS  
Nanti pulangnya bareng ya mas..?! Saya tunggu di halte bus biasanya.

BENDOT  
Okey..! si yu = see you (Exit)

MAK KUAT  
Bendot kok pinter bahasa Inggris kursus dimana ya Le?

PUNGKAS  
Mas Bendot tiap hari di jalan raya kan sering ketemu turis.

MAK KUAT  
O… Begitu to ceritanya.

PUNGKAS  
ehm… Mak, kerja seperti mas Bendot itu enak ya mak, Cuma modal jrang-jreng-jrangjeng dapet duit.

MAK KUAT 
Itu bukan kerja namanya Le. Kerja itu ya seperti kita ini, mengumpulkan barang bekas lalu dijual lagi. Atau seperti Pak-de yang jadi Satpam itu, atau seperti Lik Wiryo yang narik becak itu.

PUNGKAS  
Kalau bukan kerja terus apa namanya? Kan menghasilkan duit.

MAK KUAT  
Itu namanya ngamen. Ngamen itu tidak bedanya dengan mengemis. Ya… Bedanya cuma dia tidak langsung minta duit kayak pengemis secara terang-terangan, tapi pakai embel-embel menyanyi meskipun nggak pener dan kadang pales.

PUNGKAS  
Tapi kata mas Bendot, pengamen itu butuh stamina yang tinggi, keberanian mental serta ketabahan hati lho mak, malah kata mas Bendot lagi, mengamen itu mesti korban hati dan perasaan.

MAK KUAT  
Sama Le, Persis. Mengemis itu juga korban perasaan. Mbok sudah, biarkan Bendot menggonggong, emak tetap mengumpulkan barang bekas. Apa kamu pikir mengumpulkan barang bekas seperti ini tidak membutuhkan stamina yang tinggi,
ketabahan hati, dan korban perasaan? Tapi ini kerja Le, bukan ngemis. Lebih berharga. Nach, akan lebih berharga lagi jika kita bisa menjadi Pemberi, bukan Peminta. Paham to le dalam hal ini?

PUNGKAS  
Paham Mak. Tadi itu Cuma kata mas Bendot kok mak.

MAK KUAT  
Jangan percaya omongannya Bendot. Lebih baik kamu tekun belajar, sekolah setinggi-tingginya, semampu kekuatan emakmu. Mak ini sudah tidak punya harapan lain kecuali kamu, dan emak tidak punya siapa-siapa lagi kecuali kamu. Permintaan emak hanya satu kepadamu Le, rajin belajar dan giat menuntut ilmu. Karena kamu sendiri tahu to, emak ini sudah tua dan tidak punya harta benda yang dapat kutinggalkan kepadamu ketika saatnya nanti aku dipanggil Yang Mahakuasa, kecuali hanya ilmu.

PUNGKAS 
Kenapa Emak bicara sampai kesitu. Aku kan cuma menirukan omongan mas Bendot. Aku tidak mau jadi pengamen, aku tidak mau jadi pengemis. Aku mau sekolah. Aku mau merubah nasib, tidak seperti sekarang hidup dalam kemiskinan. Memang aku anak orang miskin, tapi kelak akan aku jadikan anak-anakku sebagai anak orang kaya.!

NAMPAK MATA EMAK BERKACA-KACA MEMANDANG PUNGKAS YANG
SEDANG MENGUNGKAPKAN PERASAAN HATINYA. SELESAI BICARA
PUNGKAS TERMENUNG MEMANDANGI TUMPUKAN BARANG-BARANG
BEKAS DISEKELILINGNYA.

MAK KUAT  
Mak bangga Le, punya anak seperti kamu

(Mengalirlah air matanya)

PUNGKAS 
Tapi … , saya kasihan sama emak, yang setua ini masih harus bekerja seperti ini.

MAK KUAT  
Kamu tidak perlu berkata seperti itu Le. Sudah menjadi kewajiban setiap orang tua untuk memberikan ilmu kepada anaknya dengan cara menyekolahkan. Sebab hanya itulah harta yang paling berharga untuk masa depan anaknya.

SEJENAK SEPI, DAN SEPI KEMUDIAN PAK-DE MUNCUL DARI DALAM RUMAHNYA DNG SERAGAM SATPAM SAMBIL MEMBAWA BUSI MOTOR

PAK-DE  
Mak punya peniti?

MAK KUAT  
Punya.

PAK-DE  
Pinjam.

MAK KUAT  
Itu. Dibaju. 

SAMBIL TANGANYA MENUNJUK LETAK BAJU YANG TERGANTUNG DI DINDING RUMAHNYA DAN PAK-DE SEGERA MENGAMBILNYA

PAK-DE  
Nach…, ini. Kecil bentuknya, tapi besar manfaatnya. Ya to Le? Coba kalau tidak ada peniti, terus tiba-tiba kolor celana pedot ?

MAK KUAT  
Nggak usah macem-macem, kalau sudah selesai kembalikan ketempatnya.

PAK-DE  
Maksudku kalau telinganya gatal kan bisa pakai peniti.

(Pak-de segera mengembalikan peniti itu ketempat semula, kemudian menghampiri Pungkas yang sedang menata kardus)

Le…, kamu disekolahan ikut tonti enggak Le?

PUNGKAS  
Ikut De. Memangnya kena apa?

PAK-DE  
Berarti kamu pinter baris-berbaris ya? Kalau begitu besuk kalau kamu sudah lulus SMU daftar saja ke Akademi Militer Magelang di Jawa. Sebetulnya disana masih banyak saudara dari emakmu lho Le. Jadi nanti di Jawa sekalian nengok leluhur.

PUNGKAS  
Benar mak. Kita masih punya saudara di Jawa?

MAK KUAT  
Entah Le, emak sendiri tidak tahu. Mungkin kalau belum meninggal dunia.

PUNGKAS  
Kalau sudah lulus dari AKMIL terus kerja dimana Pak-De?

PAK-DE  
Kamu bisa terus mengikuti pendidikan selanjutnya dan kalau kamu lulus bisa jadi jendral Le.

PUNGKAS  
Kalau sudah jadi Jendral bisa menyuruh bawahannya untuk menembaki orang ya pak-De.

PAK-DE  
Ya belum tentu to Le. Tergantung pendidikan yang ditempuhnya kok ya. Kalau kamu ikut pendidikan strategi perang mungkin, tapi kalau kamu milih pendidikan administrasi atau komunikasi, ya cuma duduk manis dikantor.

PUNGKAS  
Tapi saya lebih suka jadi dokter atau insinyur saja kok Pak-De. Jelas bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kalau jadi dokter untuk masalah kesehatannya, sedang Insinyur untuk pembangunannya.

PAK-DE  
Tapi kalau kamu jadi Jendral, kan tidak ada yang berani menggusur kampung kita ini Le.

MAK KUAT  (Tertawa) 
..ha.ha.ha.. Kalau si Pungkas sudah jadi dokter atau insinyur, rumahnya tidak disini lagi to pak-De. Soal kampung sini mau digusur atau tidak, itu urusanmu. He.he.he… dan lagi aku nggak mau kalau Pungkas nanti pensiun terus jadi komandan Satpam.

PAK-DE  
Kok malah jadi komandan satpam itu bagaimana to mak?

MAK KUAT  
Lha kamu dulu pangkatnya sersan mayor pensiun jadi satpam. Kalau Pungkas Jendral. Pensiun kan jadi komandan satpam.?

PAK-DE  
O.. Begitu to ceritanya. Ya terserah kamu sajalah Le, yang jelas saya sudah berikan saran terbaiku, diterima sukur, tidak ya sukur. Sudah Le, mak. Saya mau berangkat tugas dulu.

MAK KUAT  
Motornya sudah beres apa? Kok sudah mau berangkat.

PAK- DE  
Beres nggak beres tergantung dari kebaikan hati si busi ini dan berkah dari peniti tadi

( Move)

PAK-DE MENGHAMPIRI MOTORNYA UNTUK MEMASANG BUSI SETELAH
MESIN MOTOR HIDUP PAK-DE SEGERA NAIK DAN…NGEEENG…
NGEEENG… NGEEENG…KETIKA MOTOR ITU BERJALAN SESAAT,
DIREM DAN MUNDUR LAGI…

PAK DE  
Tiyaaaah..! (memanggil)

MUTIYAH  (OS) 
Ya pak…..?!

PAK-DE  
Tolong ambilkan Helm.

(Kepada Pungkas)

Soalnya kalau tanggal seperti ini banyak moment Le, kalau enggak pakai helm kena 25 ribu. Sayangkan? Bisa buat beli rokok sama bensin tiga hari….

PUNGKAS  
Lho…? Pak-de kan Satpam?!

PAK- DE  
Mereka enggak peduli.

DARI DALAM RUMAH KELUAR MUTIYAH DENGAN MEMBAWA HELM

MUTIYAH  
Ini pak helmnya.

PAK-DE  (Sambil menerima helm) Nanti kalau berangkat sekolah, kunci
rumah dititipkan ke mak Kuat, sewaktu-waktu aku pulang biar
aku enggak repot.

MUTIYAH DIAM HANYA MENGANGGUK DAN WAJAHNYA CEMBERUT KURANG SENANG. PAK-DE BERLALU DENGAN MENINGGALKAN ASAP MOTORNYA, NGEENG - NGEENG - NGEEEEEEENG…(FIDE OUT) DAN MUTIYAH KEMBALI MASUK RUMAH SETELAH MENOLEH KEARAH MAK-KUAT DAN PUNGKAS YANG MASIH MENATA BARANG- BARANG.

MAK KUAT  
Sudah sana Le, kamu pergi mandi dan siap-siap berangkat sekolah. Sebelumnya jangan lupa makan dulu. Hari ini kamu mesti berangkat lebih awal soalnya kamu mesti harus mengantarkan pesanannya Nyah Kon Sie di tokonya.

PUNGKAS  
Ya mak.

(Pungkas segera masuk rumah)

SEPI SEJENAK, KEMUDIAN.

MAK KUAT  (memanggil Mutiyah) 
Yah…., Mutiyah…!

MUTIYAH  (dari dalam rumah) 
Ya mak…?!

MAK KUAT  
Dari tadi kok enggak keluar rumah, apa pekerjaanmu belum
selesai?

MUTIYAH KELUAR MENUJU RUMAH MAK KUAT. BERSAMAAN
DENGAN ITU PUNGKAS KELUAR MENGHAMPIRI SEPEDANYA SIAP
BERANGKAT SEKOLAH.

PUNGKAS  
Mak Pungkas mau berangkat sekarang.

MAK KUAT  
Ya hati-hati. Jangan lupa pesanannya nyah Kon Sie dibawa.

PUNGKAS  
Ya mak.

SETELAH MENARUH KARDUS/BUNGKUSAN DIBONCENGAN
SEPEDANYA PUNGKAS SEGERA BERANGKAT, TIDAK LUPA SEBELUM
BERANGKAT CIUM TANGAN EMAK… Assalamu’alaikum. (Exit)

EMK & TIYH 
Wa’alaikumsalam.

SETELAH KEPERGIAN PUNGKAS

MUTIYAH  
Mak tadi mas Ben sudah lewat?

MAK KUAT  
Ben…? Bendot maksudmu? Wach…. Sudah sejak pagi tadi dia berangkat. Emang kenapa? Apa kamu enggak sekolah, malah nanya Bendot segala.

MUTIYAH  
Hari ini aku males sekolah mak…, ehg…apa mas Ben itu seterusnya mau jadi pengamen. Dia itu punya ijasah STM, mbok ya buat ngelamar kerja yang jelas gitu mak.

MAK KUAT  
Emangnya ada apa kok kamu perhatian sekali sama Bendot. Kamu serius ya sama Bendot.

MUTIYAH  
ech… ehm… iya mak.

(dengan malu-malu).

Tapi nggak boleh sama bapak, karena mas Ben cuma pengamen jalanan. Maunya
bapak kalau aku punya suami harus punya kerjaan yang jelas.

MAK KUAT  
Dalam hal ini bapakmu betul Yah. Sebab kalau punya suami tidak punya kerjaan yang jelas, penghasilannyapun juga tidak jelas, bagaimana untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

MUTIYAH  
Tapi……, saya sudah terlanjur cinta sama mas Ben, mak.

MAK KUAT  
Kamu ini masih muda Yah, belum cukup pengalaman untuk berkeluarga. Apa kamu pikir orang berumah tangga itu hanya cukup dengan cinta? He.he.he. Butuh sandang, pangan dan papan. Lha kalau calon suamimu nanti tidak punya penghasilan yang tetap, darimana akan mendapatkan semua itu. Dan lagi apa sudah tidak ada lelaki lain selain Bendot apa?

MUTIYAH  
Bukan begitu persoalannya mak. Tapi….. aku… ech… hubunganku dengan mas Ben sudah terlalu jauh, mak.

MAK KUAT  (dengan wajah cemas) 
Maksudmu..?

MUTIYAH  
Iya mak.

(takut).

Tapi jangan ceritakan ini kepada bapak ya mak?. Aku takut dimarahi bapak. Aku ceritakan ini pada emak, karena emak sudah ku anggap sebagai emakku sendiri.

(nangis).

MAK KUAT  
Astagafirullah hal adzim….., Tiyah meskipun kamu ini bukan anak emak, tapi emak ikut menyesal. Kenapa kamu tidak bisa menjaga diri. Tapi bapakmu justru harus segera tahu Yah.

MUTIYAH  (Sambil menangis).
Jangan mak, Tiyah takut bapak marah….

MAK KUAT  
Tidak Yah. Bapakmu harus segera tahu. Aku yang akan menyampaikan pada bapakmu,mumpung belum terlanjur parah keadaannya.

MUTIYAH  
Jangan mak, aku mohon jangan.. (Masih tetep nangis lho)

MAK KUAT  
Jangan kawatir Yah, aku lebih mengenal bapakmu disbanding kamu. Aku kenal bapakmu jauh sebelum ia kenal dengan ibumu.

MUTIYAH  
Ibu..? Kenapa mak, ibuku dulu meninggalkan bapak dan aku. Seandainya ada ibu disampingku……

(masih agak nangis).

MAK KUAT  (Emak menerawang jauh) 
Ibumu…?

MAK KUAT  
Iya mak, ibuku. Kenapa ia tega meninggalkan aku.

MAK KUAT  
Sebenarnya aku tidak mau lagi mengenang dan menceritakan kepada siapapun tentang kejadian yang menyakitkan itu, semua telah kukubur dalam-dalam. Tapi demi kamu Tiyah, demi masa depanmu dan demi adikmu Pungkas, akan kucieritakan kepadamu.

MUTIYAH  
Mak……? 

(wajah penuh pertanyaan)

MAK KUAT  
Sekian tahun yang lalu, ada sepasang kekasih yang gagal untuk melanjutkan ke kursi pelaminan. Karena ayah dari gadis itu tidak menyetujui hubungan  mereka. Meskipun mereka dipisahkan tetapi cinta mereka tetap tumbuh dalam hati masing-masing. Achirnya mereka berdua menemukan pasangannya sendiri-sendiri. Dengan sisa-sisa cinta yang ada mereka membangun rumah tangganya.

Ternyata suami gadis tadi tipe lelaki yang tidak setia, terbukti setelah mempunyai anak pertama ia menjalin cinta lagi dengan perempuan lain. Betapa sakit hati ibu muda yang dikhinati itu. Dan tidak cukup sampai disitu saja laki-laki itu menyiksa batin istrinya, suatu ketika ia minggat dengan perempuan tadi. Padahal perempuan itu juga punya suami dan anak. Dan Suami yang ditinggalkan itu adalah….bapakmu.

MUTIYAH  
Mak….?!

MAK KUAT  
Sedangkan istri yang ditinggal oleh suaminya itu adalah perempuan tua yang sedang bercerita didepanmu…aku. aku….hu.hu.hu. 

(nangis-lah)

MUTIYAH  
Maaakkk….!? 

(nangis histeris)

MAK KUAT  
Sudahlah Tiyah, nanti urusan Bendot aku yang menyelesaikan

PAK-DE MUNCUL DENGAN MENUNTUN SEPEDA MOTORNYA KARENA
MESINNYA MATI/ MOGOK. MAK KUAT DAN MUTIYAH BERUSAHA
MENYEMBUNYIKAN BEKAS KESEDIHANNYA DENGAN MENGUSAP AIR
MATANYA.

PAK DE  
Wach… sialan, gara-gara jalan macet, motor ikut macet. Motor kok ya solider.

(melihat kearah Mutiyah yang sedang mengusap air mata)

Sudah enggak usah menangis, besuk bapak mau kredit motor yang baru , ya resikonya paling cuma potong gaji, nggak apa ikut mode, kridit itu trend. Jadi pegawai itu kalau tidak punya utang ketinggalan mode dan tidak ngetren. Sudah jangan sedih, sana
bapak ambilkan teh

(sambil memarkir motornya).

MUTIYAH MENINGGALKAN TEMPAT UNTUK MENGAMBIL AIR TEH BUAT BAPAKNYA.

MAK KUAT  
Mbok sudah motormu itu jadikan barang rongsokan saja.

PAK DE  
Wech.. jangan. Biar jelek begini banyak menyimpan kenangan dan sejarah. Kalau nanti aku jadi kridit motor, ini akan saya musiumkan buat kenang-kenangan anak cucu. Sayang benda ini tidak bisa bicara dan untung tak bisa bicara. Kalau bisa bicara
pasti akan membuka segala rahasia dan cerita kepada siapa saja.

MAK KUAT  
Saya sudah bicara, dan saya sudah buka rahasia.

PAK DE  (berpikir) 
Maksudmu?

MAK KUAT  
Aku bicara dan cerita tentang kita.

PAK DE  
Kepada siapa kamu cerita.

MAK KUAT  
Anakmu.

PAK DE  
Mutiyah?! Kenapa kau lakukan itu.

MAK KUAT  
Aku tidak mau kejadian seperti itu akan terulang dan menimpa anakmu.

PAK DE  
Memangnya ada apa dengan Mutiyah, anakku.

MAK KUAT  
Dia sudah dewasa, biarkan dia memilih untuk kebahagiaan masa depannya. Bendot belum tentu seburuk yang kau kira. Bagi saya yang penting dia bisa bertanggung jawab, dan jangan kau salahkan anakmu semua memang harus berjalan sesuai dengan
kehendakNya.Dan sebentar lagi kau akan segera menimang cucu.

PAK DE  
Mutiyah…? (kalimat itu keluar dari mulutnya tanpa sadar)

BENDOT MUNCUL DENGAN WAJAH KESAL SAMBIL MENYANYIKAN
LAGU MAJU TAK GENTAR SEKENANYA, DAN SEGERA DUDUK
BERGABUNG BERSAMA PAK DE DAN MAK KUAT TANPA DOSA.

MAK KUAT  
Kok tumben kamu Ben, masih siang begini sudah pulang. Apa sudah dapet setorannya?

BENDOT  
Boro-boro dapet setoran mak, orang jalanan macet, toko-toko pada tutup semua, dan cross road sepi nggak ada satu mobilpun yang lewat!

MAK KUAT  
Kros-rud itu mana?

BENDOT  
Perempatan !

MAK KUAT  
Memangnya ada apa Ndot kok jalanan sepi?

BENDOT  
Reformasi Mak! Wach… nggak gaul. Makanya mas-mas mahasiswa itu pada demontrasi sejak tadi pagi.

MAK KUAT  
Reformasi itu apa Ndot, apa kamu tahu.

BENDOT  
Lha ya jelas tahu to mak,. Reformasi itu perubahan.

MAK KUAT  
Perubahan? Terus yang berubah apanya?

BENDOT  
Ach…! Emak ini nggak gaul sich. Yang yang berubah ya semuanya. Seperti Pak-De ini lho, dulu tentara sekarang satpam, seperti emak dulu pemulung sekarang pengumpul barang bekas. seperti lik Wiryo itu, dulu sopir sekarang tukang becak. Kan berubah.

PAK DE  
Seperti kamu, dulu kenthir sekarang pethuk. Mbok kalau tidak tahu itu enggak usah ngomong, salah-salah malah celaka kamu

TIBA-TIBA DARI KEJAUHAN TERDENGAR SUARA TEMBAKAN

MAK KUAT  
Suara apa itu ya?

PAK DE  
Paling anak-anak mainan mercon, kalau nggak ya ban meletus.

BENDOT  
Bukan pak-De. Itu pasti suara tembakan, soalnya tadi waktu mas-mas mahasiswa itu pada demontrasi, ada banyak kendaraan mengangkut tentara, aku lihat sendiri tadi. Pasti suara tadi suara bedil atau pestol.

MAK KUAT  
Terus yang ditembaki siapa Ndot?

BENDOT  
Siapa lagi kalau bukan mahasiswa-mahasiswa itu.

MAK KUAT  
Ach masak. Mas-mas mahasiswa itu kan rakyatnya sendiri, bangsanya sendiri, masak ditembaki.

BENDOT  
Biasanya juga begitu kok mak, kalau ada demontrasi.

MAK KUAT  
Mudah-mudahan ini diluar kebiasaan.

BENDOT  ( Toleh kanan toleh kiri) 
Pungkas belum pulang to mak?

MAK KUAT  
Belum. Tadi kan malah janjian sama kamu ketemu di halte bus to? Kok kamu enggak nunggu disana. Jangan –jangan dia malah nunggu kamu di halte.

BENDOT  
Tadi setahu saya begitu ada demontrasi sekolahan pada dipulangkan lebih awal kok mak, orang saya dijalan banyak ketemu anak-anak sekolah pada pulang kok.

PAK DE  
Kak-kok-kak-kok kaya ayam, sudah sana sekarang kamu lihat di halte ada enggak. Kalau nggak ada kamu susul saja di sekolahannya apa dia masih disana apa tidak. Cepat laksanakan.

BENDOT  
Siap komandan!

(hanya ngeledek) 

Sebentar to pak-De, saya kan baru saja datang dan masih capek, mbok saya tak minum dulu.

PAK DE  
Oiya,… Mutiyah….

(memanggil) 

Mana tehnya Bapak?

MUTIYAH KELUAR DENGAN SEGELAS AIR TEH DITANGANNYA, BENDOT YANG TADI AKAN MENGAMBIL MINUM DIRUMAH MAK-KUAT DIBATALKAN KARENA MELIHAT MUTIYAH SIJANTUNG HATI. MELIHAT KEADAAN ITU PAK-DE SEGERA MENGUSIR BENDOT.

PAK DE  
Cepat sana pergi, nunggu apa lagi nanti keburu malam Pungkas nggak ketemu.

BENDOT  
Ya-ya Pak De, baru jadi Satpam aja sudah galak, apalagi jadi polisi.

Move

KETIKA BENDOT HENDAK MELANGKAH TIBA-TIBA DARI ARAH
BERLAWANAN MASUK DUA ORANG MAHASISWA DAN HAMPIR
MENABRAKNYA

BENDOT  
Eit..! Lihat jalan mas!!

(Bendot langsung menunjukan jalan)

Sana tu, lurus, kanan, kiri, kanan lagi terus naik.

MAHASISWA 1  
Bukan mas. Saya tidak mau tanya jalan lagi, tapi e...maaf
permisi…

BENDOT  
Terus mau nanya apa lagi.

MAHASISWA 2  
Eh… Begini mas. Apa disini ada yang bernama Pungkas?

MAK KUAT  
Ada mas, saya emaknya, ada apa mencari Pungkas?

PAK DE  
Ada apa mas?!

MAHASISWA 2  
Ech.. sebelumnya saya minta maaf kalau kedatangan saya berdua ini telah mengagetkan saudara-saudara disini.

MAK KUAT  
Tidak apa-apa. Ada apa sich mas?

MAHASISWA  (Dengan ragu) 
eh.. Kami dari forum mahasiswa yang mengurusi korban demontrasi telah menemukan salah satu korban eh.. yang bernama Pungkas dengan identitas dan alamat dikampung ini.

MAK KUAT  
Terus sekarang Pungkas dimana?!

(Cemas)

PAK DE  
Ya, terus bagaimana keadaannya?! (Penasaran)

MAHASISWA  
Sekarang jenazahnya sedang di otopsi dirumah sakit, karena dadanya telah tertembak peluru nyasar ketika ada demontrasi.

MAK KUAT  
Pu n g k a a a s s s . . . !

MAK KUAT MENANGIS HISTERIS SAMBIL TERUS-MENERUS MEMANGGIL NAMA PUNGKAS DIIKUTI MUTIYAH DAN PAK-DE SEDANGKAN BENDOT KALAP DAN MARAH KEPADA SIAPA TIDAK TAHU. SUARA TANGIS DAN TERIAKAN MEREKA KEMUDIAN DITIMPA LAGU GUGUR BUNGA SECARA FIDE IN DAN LAMPU PANGGUNG SEMAKIN REDUP, REDUP DAN  ACHIRNYA GELAP TANDA CERITA INI TELAH SELESAI.

                                    END

Yogyakarta, 1 Mei 2004, Sabtu Pon Jam 01.47.wib. Sewon Indah B-15 Bantul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar