Bacalah naskah drama berikut, kemudian tentukan unsur-unsur pembangun drama:
1. Tema
2. Tokoh dan perannya
3. Alur drama
a. Eksposisi (pendahuluan)
b. Komplikasi (permasalahan)
c. Klimaks (puncak permasalahan)
d. Resolusi (penyelesaian)
e. Konklusi (kesimpulan)
4. Amanat
Drama Sebabak
Karya Agus ley-loor
PELAKU
Pak De Jumingan laki-laki usia 60 tahun Mantan pasukan Seroja
Mutiyah gadis usia 17 tahun Anak pak De
Mak Kuat Janda usia 55 tahun Pengumpul barang bekas.
Pungkas anak mak Kuat usia 18 tahun Pelajar SMU
Bendot pemuda usia 21
tahun Pengamen Jalanan
Mahasiswa reformis I
Mahasiswa Reformis II
SUASANA PAGI HARI PADA SEBUAH PERKAMPUNGAN
MISKIN DI PINGGIRAN IBU KOTA JAKARTA 1998. DI SEBELAH KANAN PANGGUNG
BERDIRI RUMAH SEDERHANA NAMUN BERSIH MILIK PAK DE JUMINGAN, SEDANG DI SEBELAH
KIRI RUMAH SANGAT SEDERHANA MILIK MAK KUAT DAN DI SEKITAR RUMAH ITU BANYAK
TUMPUKAN BARANG BEKAS DAN SEPEDA BUTUT MILIK PUNGKAS.
KETIKA LAYAR DIBUKA NAMPAK PAK-DE SEDANG BERUSAHA MENGHIDUPKAN
MESIN MOTORNYA YANG SEJAK TADI TIDAK BISA HIDUP. SEMENTARA DISEBELAH KIRI
PANGGUNG PUNGKAS SEDANG MEMBANTU EMAKNYA MENATA BARANG-BARANG BEKAS…
(O.S.) DARI JAUH TERDENGAR SAYUP-SAYUP
SAMPAI LAGU MAJU TAK GENTAR CIPTAAN C. SIMANJUNTAK YANG DINYANYIKAN OLEH
BERIBU-RIBU MANUSIA.
Kalau saya mendengar lagu Maju Tak Gentar
seperti tadi Le, hemm…..Rasanya menggelegak darah dalam dadaku.
PUNGKAS
Kenapa De?
PAK-
DE
Betapa tidak. Waktu itu aku bersama
teman-teman satu pleton sedang berjalan menuju sebuah desa pegunungan di Timor -timur
bagian selatan. Daerah itu penuh dengan tumbuhan
liar dan semak belukar. Setiap kali kami melalui jalan setapak yang sering kami
lewati, bulu kuduk kami selalu berdiri. Kamu tahu le?
PUNGKAS
Tidak.
PAK-DE
Tak kasih tahu ya, waktu itu malam jumat
kliwon hujan rintik-rintik. Kalau cuma
binatang buas atau binatang berbisa, kami sudah biasa menjumpai dan itu tak berarti bagi
kami.
PUNGKAS
Kalau Jin, hantu atau roch halus, bagaimana
De?
PAK-DE
Kami orang- orang beriman yang tidak
percaya dengan tahayul.
PUNGKAS
Lalu kenapa bulu kuduk Pak-De dan
teman-teman berdiri kalau tidak takut semuanya?
PAK-DE
Yang kami takutkan adalah ranjau milik
musuh dan musuh kami yang sangat
lihai. Sering secara tiba-tiba mereka muncul, kemudian menembaki Kalau tidak
waspada, nyawa taruhannya. Nah.
Untuk memberikan motivasi dan
semangat pasukanku, kami
biasanya menyanyikan lagu itu.
PUNGKAS
O… begitu to ceritanya. Kalau Pak-De takut
sama musuh, kenapa dulu Pak-De mau ditugaskan disana? Mending dirumah saja kumpul sama anak
istri dan tidak kawatir kena ranjau musuh.
MAK
KUAT
Kalau dirumah takut ranjaunya mbok-de Le.
PUNGKAS
Emangnya mbok-de punya ranjau?
PAK-DE
Emakmu itu ada-ada saja. Itulah Le, resiko
jadi prajurit. Terikat oleh sumpah prajurit, apa yang diperintahkan oleh atasan
prajurit harus siap melaksanakan.
PUNGKAS
Kalau perintahnya harus menembak orang,
Apakah Pak-De juga akan laksanankan?
PAK-DE
Temtu Le.
PUNGKAS
Pak- De enggak takut dosa?
PAK-DE
Ech…anu.. Le….?
MAK-
KUAT (setelah melihat Pak-De
sejenak)
Ayo to Le cepet selesaikan pekerjaannya,
nanti keburu siang kamu berangkat sekolah.
Ngomong sama Pak-Demu itu nggak
selesai-selesai.
PAK-DE
Iya Le. Aku tak mbetulin motor dulu.
BENDOT
MUNCUL MEMBAWA GUITAR SAMBIL MENYANYIKAN LAGU MAJU TAK GENTAR PAK-DE GRAGAPAN DAN MENGUMPAT
BENDOT
Gimana Pak-De. Lagunya bisa memberi
semangat nggak?
PAK-DE
Itu bukan memberi semangat tapi ngagetin!
Jangan diulangi ya!
BENDOT
wah… kalau diulangi ya nggo-pek Pak-De.
PAK-DE
Nggo-pek palelu.
BENDOT AKAN BERLALU DARI TEMPAT ITU
BENDOT
Mari Pak-De, saya berangkat tugas duluan.
PAK-
DE
Kayak pegawai saja pakai tugas segala.
Terus kantormu itu dimana Ndot- Bendot?!
BENDOT
Lho..? Di Cross
Road -
Red Lamp Courporation gitu kok…?
PAK-
DE
BENDOT
Perempatan lampu merah.! Wach.. Pak-De ini
nggak gaul.
PAK-DE
Oalah…Ndot, minggat sana !
BENDOT
Okey… Excuse me Big Father…
BENDOT
BERJALAN KEARAH KIRI PANGGUNG DAN PAK-DE MASUK RUMAH
MAK
KUAT
Kok tumben Ndot. Hari masih begini pagi
kamu sudah berangkat tugas. Biasanya habis adzan dluhur kamu baru lewat.
BENDOT
Iya Mak.
Buat ngejar setoran.
MAK
KUAT
Yang Kamu setori itu siapa Ndot?
PUNGKAS
MAK
KUAT
O… begitu to ceritanya…? Si Tiyah…? Wech…
baru tahu aku.
BENDOT
Emak sich, nggak gaul.
MAK
KUAT
Tapi pesan emak jangan buat main-main. Kamu
bisa dihajar bapaknya nanti. Sudah sana cari duwit yang banyak buat setoran.
BENDOT
Iya dech mak. Insya Allah. Excuse me mak.
.…..
KETIKA
BENDOT HENDAK MELANGKAH DARI ARAH BERLAWANAN
MUNCUL
DUA ORANG MAHASISWA LARI TERBURU
DENGAN WAJAH
KETAKUTAN
HAMPIR MENABRAK BENDOT. DAN BENDOTPUN
MENGHINDAR…. . …
BENDOT
Eit! Lihat jalan mas!
(Bendot
mengumpat)
MAHASISWA 1
Maaf mas keburu-buru.
MAHASISWA 2 (Nampak terburu-buru dan nafas
tak beraturan)
Mas apa gang ini bisa tembus ke jalan raya?….ech…kami….ech ..anu…. kami…
BENDOT
Bisa. Depan rumah itu kanan-kiri-kanan-kiri
terus naik.
MAHASISWA
1+2
Terimakasih mas, permisi…
MEREKA BERDUA TERUS BERLARI MENGIKUTI
PETUNJUK YANG TELAH DIBERIKAN BENDOT. SEMUA YANG ADA DISANA
MELIHAT KEDUA MAHASISWA ITU DENGAN KEHERANAN BENDOT MENGANGKAT BAHU DENGAN
KEDUA TELAPAK TANGANNYA TERBUKA SAMBIL ALIS MATANYA DITARIK KEATAS TANDA TAK MEGERTI.
PERBUATAN BENDOT ITU DIIKUTI OLEH PUNGKAS, EMAK SERTA PAK-DE SECARA BERUNTUN.
BENDOT SEGERA MELANJUTKAN LANGKAHNYA DAN PERGI…
PUNGKAS
Nanti pulangnya bareng ya mas..?! Saya
tunggu di halte bus biasanya.
BENDOT
Okey..! si yu = see you (Exit)
MAK
KUAT
Bendot kok pinter bahasa Inggris kursus
dimana ya Le?
PUNGKAS
Mas Bendot tiap hari di jalan raya kan sering ketemu turis.
MAK
KUAT
O… Begitu to ceritanya.
PUNGKAS
ehm… Mak, kerja seperti mas Bendot itu enak
ya mak, Cuma modal jrang-jreng-jrangjeng dapet duit.
MAK
KUAT
Itu bukan kerja namanya Le. Kerja itu ya seperti
kita ini, mengumpulkan barang bekas lalu dijual lagi. Atau seperti Pak-de yang
jadi Satpam itu, atau seperti Lik Wiryo yang narik becak itu.
PUNGKAS
Kalau bukan kerja terus apa namanya? Kan menghasilkan duit.
MAK
KUAT
Itu namanya ngamen. Ngamen itu tidak
bedanya dengan mengemis. Ya… Bedanya cuma dia tidak langsung minta duit kayak
pengemis secara terang-terangan,
tapi pakai embel-embel menyanyi meskipun nggak pener dan kadang pales.
PUNGKAS
Tapi kata mas Bendot, pengamen itu butuh
stamina yang tinggi, keberanian mental serta ketabahan hati lho mak, malah kata
mas Bendot lagi, mengamen itu
mesti korban hati dan perasaan.
MAK
KUAT
Sama Le, Persis. Mengemis itu juga korban
perasaan. Mbok sudah, biarkan
Bendot menggonggong, emak tetap mengumpulkan barang bekas. Apa kamu pikir
mengumpulkan barang bekas seperti ini tidak membutuhkan stamina yang tinggi,
ketabahan hati, dan korban perasaan? Tapi ini kerja Le, bukan
ngemis. Lebih berharga. Nach, akan lebih berharga lagi jika kita bisa menjadi
Pemberi, bukan Peminta. Paham to le dalam hal ini?
PUNGKAS
Paham Mak. Tadi itu Cuma kata mas Bendot
kok mak.
MAK
KUAT
Jangan percaya omongannya Bendot. Lebih
baik kamu tekun belajar, sekolah setinggi-tingginya, semampu kekuatan emakmu. Mak
ini sudah tidak punya harapan lain kecuali kamu, dan emak tidak punya
siapa-siapa lagi kecuali kamu. Permintaan emak hanya satu kepadamu Le, rajin
belajar dan giat menuntut ilmu. Karena kamu sendiri tahu to, emak ini sudah tua
dan tidak punya harta benda yang dapat kutinggalkan kepadamu ketika saatnya nanti
aku dipanggil Yang Mahakuasa, kecuali hanya ilmu.
PUNGKAS
Kenapa Emak bicara sampai kesitu. Aku kan cuma menirukan
omongan mas Bendot. Aku tidak mau jadi pengamen, aku tidak mau jadi pengemis.
Aku mau sekolah. Aku mau merubah nasib, tidak seperti sekarang hidup dalam
kemiskinan. Memang aku anak orang miskin, tapi
kelak akan aku jadikan anak-anakku sebagai anak orang kaya.!
NAMPAK
MATA EMAK BERKACA-KACA MEMANDANG PUNGKAS
YANG
SEDANG
MENGUNGKAPKAN PERASAAN HATINYA. SELESAI BICARA
PUNGKAS TERMENUNG MEMANDANGI TUMPUKAN BARANG-BARANG
BEKAS
DISEKELILINGNYA.
MAK
KUAT
Mak bangga Le, punya anak seperti kamu
(Mengalirlah
air matanya)
PUNGKAS
Tapi … , saya kasihan sama emak, yang setua
ini masih harus bekerja seperti ini.
MAK
KUAT
Kamu tidak perlu berkata seperti itu Le.
Sudah menjadi kewajiban setiap orang tua untuk memberikan ilmu kepada anaknya
dengan cara menyekolahkan. Sebab hanya itulah harta yang paling berharga untuk
masa depan anaknya.
SEJENAK
SEPI, DAN SEPI KEMUDIAN PAK-DE MUNCUL DARI DALAM RUMAHNYA DNG SERAGAM
SATPAM SAMBIL MEMBAWA BUSI MOTOR
PAK-DE
Mak punya peniti?
MAK
KUAT
Punya.
PAK-DE
Pinjam.
MAK
KUAT
Itu. Dibaju.
SAMBIL
TANGANYA MENUNJUK LETAK BAJU YANG TERGANTUNG DI DINDING RUMAHNYA DAN PAK-DE
SEGERA MENGAMBILNYA
PAK-DE
Nach…, ini. Kecil bentuknya, tapi besar
manfaatnya. Ya to Le? Coba kalau tidak ada peniti, terus tiba-tiba kolor celana
pedot ?
MAK
KUAT
Nggak usah macem-macem, kalau sudah selesai
kembalikan ketempatnya.
PAK-DE
Maksudku kalau telinganya gatal kan bisa pakai peniti.
(Pak-de
segera mengembalikan peniti itu ketempat semula, kemudian menghampiri Pungkas
yang sedang menata kardus)
Le…, kamu disekolahan ikut tonti enggak Le?
PUNGKAS
Ikut De.
Memangnya kena apa?
PAK-DE
Berarti kamu pinter baris-berbaris ya?
Kalau begitu besuk kalau kamu sudah lulus SMU daftar saja ke Akademi Militer Magelang di Jawa. Sebetulnya disana
masih banyak saudara dari emakmu lho Le. Jadi nanti di Jawa sekalian nengok
leluhur.
PUNGKAS
Benar mak. Kita masih punya saudara di
Jawa?
MAK
KUAT
Entah Le, emak sendiri tidak tahu. Mungkin
kalau belum meninggal dunia.
PUNGKAS
Kalau sudah lulus dari AKMIL terus kerja
dimana Pak-De?
PAK-DE
Kamu bisa terus mengikuti pendidikan
selanjutnya dan kalau kamu lulus bisa jadi jendral Le.
PUNGKAS
Kalau sudah jadi Jendral bisa menyuruh
bawahannya untuk menembaki orang ya pak-De.
PAK-DE
Ya belum tentu to Le. Tergantung pendidikan
yang ditempuhnya kok ya. Kalau kamu ikut pendidikan strategi perang mungkin, tapi
kalau kamu milih pendidikan administrasi atau komunikasi, ya cuma duduk manis dikantor.
PUNGKAS
Tapi saya lebih suka jadi dokter atau
insinyur saja kok Pak-De. Jelas bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kalau jadi
dokter untuk masalah kesehatannya, sedang Insinyur untuk pembangunannya.
PAK-DE
Tapi kalau kamu jadi Jendral, kan tidak ada yang berani menggusur
kampung kita ini Le.
MAK
KUAT (Tertawa)
..ha.ha.ha.. Kalau si Pungkas sudah jadi
dokter atau insinyur, rumahnya tidak disini lagi to pak-De. Soal kampung sini mau
digusur atau tidak, itu urusanmu. He.he.he… dan lagi aku nggak mau kalau
Pungkas nanti pensiun terus jadi komandan Satpam.
PAK-DE
Kok malah jadi komandan satpam itu
bagaimana to mak?
MAK
KUAT
Lha kamu dulu pangkatnya sersan mayor
pensiun jadi satpam. Kalau Pungkas Jendral. Pensiun kan jadi komandan satpam.?
PAK-DE
O.. Begitu to ceritanya. Ya terserah kamu
sajalah Le, yang jelas saya sudah berikan saran terbaiku, diterima sukur, tidak
ya sukur. Sudah Le, mak. Saya mau berangkat tugas dulu.
MAK
KUAT
Motornya sudah beres apa? Kok sudah mau berangkat.
PAK-
DE
Beres nggak beres tergantung dari kebaikan
hati si busi ini dan berkah dari peniti tadi
( Move)
PAK-DE
MENGHAMPIRI MOTORNYA UNTUK MEMASANG
BUSI SETELAH
MESIN
MOTOR HIDUP PAK-DE SEGERA NAIK DAN…NGEEENG…
NGEEENG…
NGEEENG…KETIKA MOTOR ITU BERJALAN SESAAT,
DIREM
DAN MUNDUR LAGI…
PAK
DE
Tiyaaaah..! (memanggil)
MUTIYAH (OS)
Ya pak…..?!
PAK-DE
Tolong ambilkan Helm.
(Kepada
Pungkas)
Soalnya kalau tanggal seperti ini banyak
moment Le, kalau enggak pakai helm kena 25 ribu. Sayangkan? Bisa buat beli
rokok sama bensin tiga hari….
PUNGKAS
Lho…? Pak-de kan Satpam?!
PAK-
DE
Mereka enggak peduli.
DARI
DALAM RUMAH KELUAR MUTIYAH DENGAN
MEMBAWA HELM
MUTIYAH
Ini pak helmnya.
PAK-DE (Sambil menerima helm) Nanti kalau
berangkat sekolah, kunci
rumah dititipkan ke mak Kuat, sewaktu-waktu
aku pulang biar
aku enggak repot.
MUTIYAH DIAM HANYA MENGANGGUK DAN WAJAHNYA CEMBERUT
KURANG SENANG. PAK-DE BERLALU DENGAN MENINGGALKAN ASAP MOTORNYA, NGEENG - NGEENG -
NGEEEEEEENG…(FIDE OUT) DAN
MUTIYAH KEMBALI MASUK RUMAH
SETELAH MENOLEH KEARAH MAK-KUAT DAN PUNGKAS
YANG MASIH MENATA BARANG- BARANG.
MAK
KUAT
Sudah sana Le, kamu pergi mandi dan siap-siap
berangkat sekolah. Sebelumnya jangan lupa makan dulu. Hari ini kamu mesti
berangkat lebih awal soalnya kamu mesti harus mengantarkan pesanannya Nyah Kon
Sie di tokonya.
PUNGKAS
Ya mak.
(Pungkas
segera masuk rumah)
SEPI
SEJENAK, KEMUDIAN.
MAK
KUAT (memanggil Mutiyah)
Yah…., Mutiyah…!
MUTIYAH (dari dalam rumah)
Ya mak…?!
MAK
KUAT
Dari tadi kok enggak keluar rumah, apa pekerjaanmu belum
selesai?
MUTIYAH
KELUAR MENUJU RUMAH MAK KUAT.
BERSAMAAN
DENGAN
ITU PUNGKAS KELUAR MENGHAMPIRI
SEPEDANYA SIAP
BERANGKAT SEKOLAH.
PUNGKAS
Mak Pungkas mau berangkat sekarang.
MAK
KUAT
Ya hati-hati. Jangan lupa pesanannya nyah Kon Sie dibawa.
PUNGKAS
Ya mak.
SETELAH
MENARUH KARDUS/BUNGKUSAN DIBONCENGAN
SEPEDANYA
PUNGKAS SEGERA BERANGKAT, TIDAK
LUPA SEBELUM
BERANGKAT
CIUM TANGAN EMAK… Assalamu’alaikum. (Exit)
EMK
& TIYH
Wa’alaikumsalam.
SETELAH
KEPERGIAN PUNGKAS
MUTIYAH
Mak tadi mas Ben sudah lewat?
MAK
KUAT
Ben…? Bendot maksudmu? Wach…. Sudah sejak
pagi tadi dia berangkat. Emang kenapa?
Apa kamu enggak sekolah, malah nanya Bendot segala.
MUTIYAH
Hari ini aku males sekolah mak…, ehg…apa
mas Ben itu seterusnya mau jadi pengamen. Dia itu punya ijasah STM, mbok ya buat ngelamar kerja yang jelas gitu mak.
MAK
KUAT
Emangnya ada apa kok kamu perhatian sekali
sama Bendot. Kamu serius ya sama Bendot.
MUTIYAH
ech… ehm… iya mak.
(dengan
malu-malu).
Tapi nggak
boleh sama bapak, karena mas Ben cuma pengamen jalanan. Maunya
bapak kalau aku punya suami harus punya
kerjaan yang jelas.
MAK
KUAT
Dalam hal ini bapakmu betul Yah. Sebab
kalau punya suami tidak punya kerjaan yang jelas, penghasilannyapun juga tidak jelas,
bagaimana untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga.
MUTIYAH
Tapi……, saya
sudah terlanjur cinta sama mas Ben, mak.
MAK
KUAT
Kamu ini masih muda Yah, belum cukup
pengalaman untuk berkeluarga. Apa kamu pikir orang berumah tangga itu hanya cukup
dengan cinta? He.he.he. Butuh
sandang, pangan dan papan. Lha kalau calon suamimu nanti tidak punya
penghasilan yang tetap, darimana
akan mendapatkan semua itu. Dan lagi apa sudah tidak ada lelaki lain selain
Bendot apa?
MUTIYAH
Bukan begitu persoalannya mak. Tapi….. aku…
ech… hubunganku dengan mas Ben sudah terlalu jauh, mak.
MAK
KUAT (dengan wajah cemas)
Maksudmu..?
MUTIYAH
Iya mak.
(takut).
Tapi jangan ceritakan ini kepada bapak ya mak?.
Aku takut dimarahi bapak. Aku ceritakan ini pada emak, karena emak sudah ku
anggap sebagai emakku sendiri.
(nangis).
MAK
KUAT
Astagafirullah hal adzim….., Tiyah meskipun
kamu ini bukan anak emak, tapi emak ikut menyesal. Kenapa kamu tidak bisa menjaga
diri. Tapi bapakmu justru harus segera tahu Yah.
MUTIYAH (Sambil menangis).
Jangan mak, Tiyah takut bapak marah….
MAK
KUAT
Tidak Yah. Bapakmu harus segera tahu. Aku
yang akan menyampaikan pada bapakmu,mumpung belum terlanjur parah keadaannya.
MUTIYAH
Jangan mak, aku mohon jangan.. (Masih tetep nangis lho)
MAK
KUAT
Jangan kawatir Yah, aku lebih mengenal
bapakmu disbanding kamu. Aku kenal bapakmu jauh sebelum ia kenal dengan ibumu.
MUTIYAH
Ibu..? Kenapa mak, ibuku dulu meninggalkan
bapak dan aku. Seandainya ada ibu disampingku……
(masih
agak nangis).
MAK
KUAT (Emak menerawang jauh)
Ibumu…?
MAK
KUAT
Iya mak, ibuku. Kenapa ia tega meninggalkan
aku.
MAK
KUAT
Sebenarnya aku tidak mau lagi mengenang dan
menceritakan kepada siapapun tentang kejadian yang menyakitkan itu, semua telah
kukubur dalam-dalam. Tapi demi kamu Tiyah, demi masa depanmu dan demi adikmu
Pungkas, akan kucieritakan kepadamu.
MUTIYAH
Mak……?
(wajah
penuh pertanyaan)
MAK
KUAT
Sekian tahun yang lalu, ada sepasang
kekasih yang gagal untuk melanjutkan ke kursi pelaminan. Karena ayah dari gadis
itu tidak menyetujui hubungan mereka.
Meskipun mereka dipisahkan tetapi cinta mereka tetap tumbuh dalam hati masing-masing.
Achirnya mereka berdua menemukan pasangannya sendiri-sendiri. Dengan sisa-sisa
cinta yang ada mereka membangun rumah tangganya.
Ternyata suami gadis tadi tipe lelaki yang
tidak setia, terbukti setelah mempunyai
anak pertama ia menjalin cinta lagi dengan perempuan lain. Betapa sakit hati ibu muda yang dikhinati itu. Dan tidak cukup
sampai disitu saja laki-laki itu menyiksa batin istrinya, suatu ketika ia
minggat dengan perempuan tadi. Padahal perempuan itu juga punya suami dan anak. Dan Suami yang ditinggalkan itu adalah….bapakmu.
MUTIYAH
Mak….?!
MAK
KUAT
Sedangkan istri yang ditinggal oleh
suaminya itu adalah perempuan tua yang sedang bercerita didepanmu…aku. aku….hu.hu.hu.
(nangis-lah)
MUTIYAH
Maaakkk….!?
(nangis
histeris)
MAK
KUAT
Sudahlah Tiyah, nanti urusan Bendot aku
yang menyelesaikan
PAK-DE
MUNCUL DENGAN MENUNTUN SEPEDA MOTORNYA
KARENA
MESINNYA
MATI/ MOGOK. MAK KUAT DAN MUTIYAH
BERUSAHA
MENYEMBUNYIKAN BEKAS KESEDIHANNYA DENGAN MENGUSAP AIR
MATANYA.
PAK
DE
Wach… sialan, gara-gara jalan macet, motor
ikut macet. Motor kok ya solider.
(melihat
kearah Mutiyah yang sedang mengusap air mata)
Sudah enggak usah menangis, besuk bapak mau
kredit motor yang baru , ya resikonya paling cuma potong gaji, nggak apa ikut mode,
kridit itu trend. Jadi pegawai itu kalau tidak punya utang ketinggalan mode dan
tidak ngetren. Sudah jangan sedih, sana
bapak ambilkan teh
(sambil
memarkir motornya).
MUTIYAH
MENINGGALKAN TEMPAT UNTUK MENGAMBIL
AIR TEH BUAT BAPAKNYA.
MAK
KUAT
Mbok sudah motormu itu jadikan barang
rongsokan saja.
PAK
DE
Wech.. jangan. Biar jelek begini banyak
menyimpan kenangan dan sejarah. Kalau nanti aku jadi kridit motor, ini akan
saya musiumkan buat kenang-kenangan anak cucu. Sayang benda ini tidak bisa
bicara dan untung tak bisa bicara. Kalau bisa bicara
pasti akan membuka segala rahasia dan
cerita kepada siapa saja.
MAK
KUAT
Saya sudah bicara, dan saya sudah buka
rahasia.
Maksudmu?
MAK
KUAT
Aku bicara dan cerita tentang kita.
PAK
DE
Kepada siapa kamu cerita.
MAK
KUAT
Anakmu.
PAK
DE
Mutiyah?! Kenapa kau lakukan itu.
MAK
KUAT
Aku tidak mau kejadian seperti itu akan
terulang dan menimpa anakmu.
PAK
DE
Memangnya ada apa dengan Mutiyah, anakku.
MAK
KUAT
Dia sudah dewasa, biarkan dia memilih untuk
kebahagiaan masa depannya. Bendot belum tentu seburuk yang kau kira. Bagi saya
yang penting dia bisa bertanggung jawab, dan jangan kau salahkan anakmu semua
memang harus berjalan sesuai dengan
kehendakNya.Dan sebentar lagi kau akan
segera menimang cucu.
PAK
DE
Mutiyah…? (kalimat itu keluar dari mulutnya tanpa
sadar)
BENDOT
MUNCUL DENGAN WAJAH KESAL SAMBIL MENYANYIKAN
LAGU
MAJU TAK GENTAR SEKENANYA, DAN
SEGERA DUDUK
BERGABUNG BERSAMA PAK DE DAN MAK KUAT TANPA
DOSA.
MAK
KUAT
Kok tumben kamu Ben, masih siang begini sudah pulang. Apa sudah dapet
setorannya?
BENDOT
Boro-boro dapet setoran mak, orang jalanan
macet, toko-toko pada tutup semua, dan cross road sepi nggak ada satu mobilpun yang lewat!
MAK
KUAT
Kros-rud itu mana?
BENDOT
Perempatan !
MAK
KUAT
Memangnya ada apa Ndot kok jalanan sepi?
BENDOT
Reformasi Mak! Wach… nggak gaul. Makanya
mas-mas mahasiswa itu pada demontrasi sejak tadi pagi.
MAK
KUAT
Reformasi itu apa Ndot, apa kamu tahu.
BENDOT
Lha ya jelas tahu to mak,. Reformasi itu
perubahan.
MAK
KUAT
Perubahan? Terus yang berubah apanya?
BENDOT
Ach…! Emak ini nggak gaul sich. Yang yang
berubah ya semuanya. Seperti Pak-De ini lho, dulu tentara sekarang satpam, seperti
emak dulu pemulung sekarang
pengumpul barang bekas. seperti lik Wiryo itu, dulu sopir sekarang tukang
becak. Kan berubah.
PAK
DE
Seperti kamu, dulu kenthir sekarang pethuk.
Mbok kalau tidak tahu itu enggak usah ngomong, salah-salah malah celaka kamu
TIBA-TIBA
DARI KEJAUHAN TERDENGAR SUARA TEMBAKAN
MAK
KUAT
Suara apa itu ya?
PAK
DE
Paling anak-anak mainan mercon, kalau nggak
ya ban meletus.
BENDOT
Bukan pak-De. Itu pasti suara tembakan,
soalnya tadi waktu mas-mas mahasiswa itu pada demontrasi, ada banyak kendaraan mengangkut
tentara, aku lihat sendiri tadi. Pasti suara tadi suara bedil atau pestol.
MAK
KUAT
Terus yang ditembaki siapa Ndot?
BENDOT
Siapa lagi
kalau bukan mahasiswa-mahasiswa itu.
MAK
KUAT
Ach masak. Mas-mas mahasiswa itu kan rakyatnya sendiri, bangsanya sendiri,
masak ditembaki.
BENDOT
Biasanya juga begitu kok mak, kalau ada
demontrasi.
MAK
KUAT
Mudah-mudahan ini diluar kebiasaan.
BENDOT ( Toleh kanan toleh kiri)
Pungkas belum pulang to mak?
MAK
KUAT
Belum. Tadi kan malah janjian sama kamu ketemu di
halte bus to? Kok kamu enggak nunggu
disana. Jangan –jangan dia malah nunggu kamu di halte.
BENDOT
Tadi setahu saya begitu ada demontrasi
sekolahan pada dipulangkan lebih awal kok mak, orang saya dijalan banyak ketemu
anak-anak sekolah pada pulang kok.
PAK
DE
Kak-kok-kak-kok kaya ayam, sudah sana sekarang kamu lihat di halte ada
enggak. Kalau nggak ada kamu susul saja di sekolahannya apa dia masih disana
apa tidak. Cepat laksanakan.
BENDOT
Siap komandan!
(hanya
ngeledek)
Sebentar to pak-De, saya kan
baru saja datang dan masih capek, mbok saya tak minum dulu.
PAK
DE
Oiya,… Mutiyah….
(memanggil)
Mana tehnya Bapak?
MUTIYAH
KELUAR DENGAN SEGELAS AIR TEH DITANGANNYA,
BENDOT YANG TADI AKAN MENGAMBIL MINUM DIRUMAH MAK-KUAT DIBATALKAN KARENA
MELIHAT MUTIYAH SIJANTUNG HATI. MELIHAT
KEADAAN ITU PAK-DE SEGERA
MENGUSIR BENDOT.
PAK
DE
Cepat sana pergi, nunggu apa lagi nanti keburu
malam Pungkas nggak ketemu.
BENDOT
Ya-ya Pak De, baru jadi Satpam aja sudah
galak, apalagi jadi polisi.
Move
KETIKA
BENDOT HENDAK MELANGKAH TIBA-TIBA DARI ARAH
BERLAWANAN
MASUK DUA ORANG MAHASISWA DAN
HAMPIR
MENABRAKNYA…
BENDOT
Eit..! Lihat jalan mas!!
(Bendot
langsung menunjukan jalan)
MAHASISWA
1
Bukan mas. Saya tidak mau tanya jalan lagi,
tapi e...maaf
permisi…
BENDOT
Terus mau nanya apa lagi.
MAHASISWA
2
Eh… Begini mas. Apa disini ada yang bernama
Pungkas?
MAK
KUAT
PAK
DE
MAHASISWA
2
Ech.. sebelumnya saya minta maaf kalau kedatangan saya berdua
ini telah mengagetkan saudara-saudara disini.
MAK
KUAT
Tidak apa-apa. Ada apa sich mas?
MAHASISWA (Dengan ragu)
eh.. Kami dari forum mahasiswa yang mengurusi
korban demontrasi telah menemukan salah satu korban eh.. yang bernama Pungkas
dengan identitas dan alamat dikampung
ini.
MAK
KUAT
Terus sekarang Pungkas dimana?!
(Cemas)
PAK
DE
Ya, terus bagaimana keadaannya?! (Penasaran)
MAHASISWA
Sekarang jenazahnya
sedang di otopsi dirumah sakit, karena dadanya telah tertembak peluru nyasar
ketika ada demontrasi.
MAK
KUAT
Pu n g k a a a s s s . . . !
MAK KUAT
MENANGIS HISTERIS SAMBIL TERUS-MENERUS MEMANGGIL NAMA PUNGKAS DIIKUTI MUTIYAH DAN PAK-DE SEDANGKAN
BENDOT KALAP DAN MARAH KEPADA SIAPA
TIDAK TAHU. SUARA TANGIS DAN TERIAKAN MEREKA
KEMUDIAN DITIMPA LAGU GUGUR BUNGA SECARA
FIDE IN DAN LAMPU PANGGUNG SEMAKIN REDUP,
REDUP DAN ACHIRNYA GELAP TANDA CERITA INI TELAH SELESAI.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar